Pengertian Zakat Penghasilan

Pengertian Zakat Penghasilan pendapatan terdiri atas dua suku kata yaitu

zakat dan penghasilan. Dari dua suku kata itu sama-sama mempunyai

pengertian yang bilamana digabungkan bakal menjadi istilah yang mempunyai

pengertian dan maksud tersendiri.

Pengertian Zakat

 

Zakat

menurut keterangan dari bahasa, berarti nama’ (kesuburan), thaharah (kesucian), barakah (keberkahan), dan berarti pun tazkiyah (mensucikan). Syara’ memakai kedua makna tersebut guna kedua makna ini.

 

Berdasarkan keterangan dari Yusuf Qardawi,

arti dasar dari kata zakat ditinjau dari sisi bahasa ialah suci, tumbuh, berkah, dan terpuji (baca: definisi zakat). Semuanya dipakai dalam Qur’an dan hadist. Tetapi yang terkuat, kata dasar zaka berarti meningkat dan tumbuh. Zakat adalahnama atau sebutan dari sesuatu hak Allah SWT yang dikeluarkan seseorang untuk fakir miskin. Dinamakan zakat karena didalamnya terdapat harapan guna beroleh berkat, mencuci jiwa dan memupuknya dengan sekian banyak  kebajikan.

 

Sedangkan pengertian

zakat menurut keterangan dari istilah atau syara’ yaitu: menyerahkan sebagian harta tertentu untuk yang berhak menerimanya dengan sejumlah syarat tertentu. Jadi kalau anda tilik pula zakat menurut keterangan dari istilah agama islam ialah kadar harta yang tertentu diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa kriteria yang tertentu. Meskipun semua ulama didalam menafsirkannya berbeda-beda akan namun semuanya mengarah pada satu arti yaitu menerbitkan sebagian harta benda untuk diserahkan kepada fakir miskin cocok dengan aturan-aturan yang sudah ditentukan dalam al-Qur’an, sebagai pembersih serta penghapus kesalahan-kesalahan manusia. Syekh Husseinin Muhammad Makluf menyampaikan Harta benda yang diserahkan kepada orang fakir itu disebut zakat yang artinya pertumbuhan dan pembersihan, oleh sebab mengeluarkan harta benda tersebut menyebabkan bertambah, berkembang dan memperbesar berkat kekayaan mereka, serta mencuci dan penjagaan untuk orang yang mempunyai kekayaan tadi dari bahaya dan kerugian yang menimpa kelak.

 

hukum Zakat Penghasilan

Mazhab

Maliki mendefinisikan zakat dengan menerbitkan sebagian dari harta yang eksklusif yang telah menjangkau nishab (batas kwantitas paling tidak yang mewajibkan zakat) untuk orang-orang yang berhak menerimanya. Mazhab Hanafi mendefinisikan zakat dengan menjadikan beberapa harta yang khusus dari harta yang eksklusif sebagai kepunyaan orang yang khusus, yang ditentukan oleh syari’at sebab Allah. Mazhab Syafi’i, zakat merupakan sebuah ungkapan keluarnya harta cocok dengan teknik khusus. Sedangkan menurut keterangan dari mazhab Hambali, zakat merupakan hak yang mesti dikeluarkan dari harta yang eksklusif untuk kumpulan yang eksklusif pula (baca: definisi zakat menurut keterangan dari imam mazhab).

 

Para pemikir

ekonomi Islam kontemporer mendefinisikan zakat sebagai harta yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau pejabat berwenang untuk masyarakat umum atau pribadi yang mempunyai sifat mengikat dan final, tanpa mendapat imbalan tertentu yang dilaksanakan pemerintah cocok dengan keterampilan pemilik harta, yang dianggarkan untuk memenuhi keperluan delapan kelompok yang telah ditentukan dalam al- Qur’an, serta untuk mengisi tuntutan politik untuk keuangan Islam.

 

Meskipun semua ulama mengemukakannya

dengan redaksi yang agak bertolak belakang antara satu dan yang lainnya, akan tetapi pada prinsipnya sama, yakni bahwa zakat itu ialah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mengharuskan kepada pemiliknya untuk di berikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Hal itu senada dengan pasal 1 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia No 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat yaitu: Zakat ialah harta yang mesti disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dipunyai oleh seorang muslim cocok dengan ketentuan agama untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya.

 

Pengertian Penghasilan

Penghasilan

dalam bahasa Inggris income, artinya ialah uang yang diterima olehseseorang atau perusahaan dalam format gaji, upah, sewa, bunga, laba dan sebagainya, lebih umum lagi ditafsirkan bahwa masing-masing uang yang diterima dihitung sebagai pendapatan (apakah uang itu berasal dari penyediaan hal produksi atau dalam format pembayaran jasa-jasa sosial lainnya).

 

Wahbah al-Zuhaili secara eksklusif mengemukakan, bahwa kegiatan pendapatan atau penghasilan yang diterima seseorang melalui usaha sendiri (wirausaha) laksana dokter, insinyur, berpengalaman hukum, konsultan, kontraktor, dan beda sebagainya. Dan pun yang berhubungan dengan pemerintah (pegawai negeri atau swasta) yang menemukan gaji atau upah dalam masa-masa yang relatif tetap, laksana sebulan sekali, dalam istilah fiqh disebutkan sebagai al-maal al-mustafaad. Semua pendapatan melalui kegiatan itu diatas, bilamana telah menjangkau nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya (baca: nisab dan haul).

Leave a Comment